5 Industri Bisnis yang Paling Terdampak Virus Corona

5 Industri Bisnis yang Paling Terdampak Virus Corona

Akhir-akhir ini seluruh dunia dihebohkan dengan adanya pandemi virus Corona yang telah mempengaruhi hampir seluruh kegiatan sehari-hari, termasuk juga imbasnya masyarakat di Indonesia. Termasuk dengan kegiatan industri yang pasti akan terdampak karena saat ini semakin sedikit orang yang pergi keluar rumah, apalagi sejak pemerintah menganjurkan untuk melakukan segala aktivitas dari rumah atau work from home atau learn from home.

Dunia industri pastinya akan terdampak, karena pola kehidupan manusia saat ini mulai adanya perubahan. Salah satu penyebab utamanya seperti: masyarakat yang jarang untuk keluar rumah dengan berbelanja hanya berdasarkan kebutuhan dan keperluannya saja dengan melakukan transaksi secara online. Kemudian kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial pun menyebabkan berbagai aktivitas bisnis mesti dilakukan dengan jarak jauh yang akan mempengaruhi banyak pekerja yang harus untuk bekerja dari rumah bahkan mengalami pemotongan gaji ataupun pengurangan karyawan.

Hampir semua industri bisnis mengalami dampak yang buruk, namun dari keseluruhan, ada beberapa industri yang merasakan dampak negatif dari covid-19 ini. Berikut ini kami siapkan informasi beberapa list industrinya

Industri Perhotelan

Dikarenakan semakin berkurangnya masyarakat yang beraktifitas diluar rumah, maka akan semakin menurunkan daya tarik masyarakat untuk menginap, berkunjung atau mengadakan rapat di Hotel. Berdasarkan beberapa data yang dikeluarkan oleh Hotel, saat ini jumlah pengunjung di bidang perhotelan menunjukkan mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga puluhan persen di beberapa daerah yang ada di Indonesia. Apalagi di daerah yang mengandalkan pariwisata dan keindahan alam dan wisata yang akan mempengaruhi pelancong yang akan ke kota tersebut. Bahkan kota atau negara terkenal di dunia pun mengalami hal serupa.

Kejadian seperti ini menyebabkan pihak hotel terpaksa harus mengurangi pengeluaran dengan berbagai macam cara seperti efisiensi, merumahkan sementara karyawan, atau bahkan jika masih mengalami kerugian, dengan berat hati harus memberlakukan keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK), jika tidak melakukan hal demikian bukan tidak mungkin jika sebuah hotel akan gulung tikar atau bangkrut. Disisi lain, pemerintah Indonesia seharusnya dapat memberikan insentif atau bantuan yang ril agar industri perhotelan bisa tetap bertahan.

Industri Pariwisata

Hampir sama dengan industri perhotelan karena industri pariwisata juga berhubungan erat. Jadi berdampak domino dikarenakan industri Pariwisata yang berkurang, semakin banyak orang yang tidak memprioritaskan bepergian ke tempat wisata apalagi di kota lain. Faktor inilah yang mempengaruhi bahwa mengapa kondisi industri pariwisata di saat pandemi saat ini dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Seperti contohnya daerah atau provinsi yang mengandalkan sebagian besar dari sektor pariwisata seperti Bali pasti akan merasakan dampaknya. Dilaporkan bahwa terdapat penurunan pengunjung wisata di Bali yang mencapai angka 90%. Terdapat ribuan orang yang mencari uang dari jasa tour guide yang harus beralih ke pekerjaan serabutan dan freelancer karena kehilangan mata pencaharian utamanya.

Namun, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sedang mengusahakan untuk melakukan optimalisasi dan penyesuaian dengan beradaptasi dengan kebiasaan baru dan juga melakukan berbagai insentif untuk kembali memggaungkan kembali industri pariwisata.

Menurut keterangan kementerian Parekraf, akan ada insentif yang dilakukan dengan mengeluarkan dana Rp. 500 Miliar untuk mendukung kerja sama dengan pihak hotel dan jasa tour, hingga bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk melakukan upaya penyelamatan industri pariwisata yang merupakan salah satu pendapatan yang signifikan untuk negara.

Industri Otomotif

Industri otomotif pun juga merasakan dampak dari pandemi karena sempat dilakukan penutupan pabrik mobil pada bulan April lalu. Pabrik juga berpotensi terjadinya penyebaran virus covid19 karena melibatkan orang dengan jumlah besar. Salah satu pabrikan mobil terbesar pun terkena dampak , yang terpaksa menutup pabriknya selama dua pekan pada April lalu hingga bulan Mei.

Selain penyebaran, Keputusan menutup pabriknya juga diambil agar stok mobil tidak menumpuk, karena penjualan yang sedang menurun. Masyarakat hingga saat ini banyak yang menunda untuk mengganti atau membeli barang yang bukan merupakan kebutuhan primer.

Berdasarkan data penjualan mobil tercatat turun apalagi juga didukung dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi secara global pada tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, produsen otomotif global memprediksikan terjadi penurunan penjualan dibandingkan tahun lalu.

Penjualan mobil di Indonesia terjadi penurunan tsejak bulan Maret lalu. Pemulihan sektor otomotif tentunya diperkirakan memakan waktu relatif lama, karena daya beli masyarakat yang mulai berkurang dengan memprioritaskan kestabilan ekonomi apalagi tidak ada jaminan tentang kapan penyebaran virus corona ini bisa selesai.

Industri Retail

Wabah virus corona pasti akan terjadi penurunan penjualan pada seluruh komoditas. Faktor utama mengapa hal tersebut terjadi tak lain dan tak bukan karena penurunan daya beli, penyebab utamanya adalah terhambatnya pasokan bahan baku.

Untuk menghidari hal ini, para pelaku di industri retail mulai mempertimbangkan untuk melakukan kegiatan produksi yang terbatas dengan protokol covid19 dan juga melakukan penjualan yang pada awalnya secara konvensional dan beralih ke dunia digital. Dengan memasarkan penjualan dengan cara digital, banyak retail yang mulai berfokus pada penjualan dengan website.

Baca Selengkapnya : 3 Langkah Membuat Website

Industri Tekstil

Yang terakhir adalah industri tekstil yang juga terdampak cukup besar dari virus Corona, yang telah membuat aktivitas ekonomi berjalan sangat lambat. Akbiatnya, banyak sektor dan industri yang terkapar lantaran tak dapat beroperasi, termasuk juga industri tekstil.

Banyak barang tekstil yang mengalami penurunan penjualan, ditambah lagi produksi yang harus dikurangi yang akan mempengaruhi para karyawan. Bank Indonesia (BI) sendiri mencatat industri pengolahan tekstil mengalami penurunan kinerja dalam pada kuartal II di tahun 2020. Sektor tekstil menjadi salah satu industri yang terdampak paling parah.

Kesimpulan

Dengan keadaan seperti saat ini, hampir seluruh industri terkena dampak, apalagi beberapa sektor industri yang sudah kami rangkum diatas. Sebagai pemilik bisnis, Anda perlu memutar otak agar tidak mengalami kerugian yang parah.

Bagaimana solusi dan pendapat Anda? Tulis di kolom komentar ya!

Related Posts